Mewakili 85% masyarakat Lombok merupakan bagian dari budaya Sasak. Meski dekat dengan Bali, mereka berbeda dengan orang Bali dalam berbagai hal. Pertama-tama, ada masalah agama.
Dahulu kala, agama yang beragam di Lombok terdiri dari Budha, Hindu, dan animisme (kepercayaan bahwa benda, makhluk, dan tempat semuanya memiliki esensi spiritual tertentu).
Warisan budaya suku Sasak yang kaya
Ketika Islam masuk ke pulau itu, agama lokal berubah menjadi Wetu Telu (agama “tiga kali”). Tiga waktu mengacu pada jumlah shalat harian yang harus diselesaikan seorang jamaah.
Mereka berdoa tiga kali sehari seperti orang Bali. Namun ada pula masyarakat Sasak yang mengikuti Wetu Lima (“lima waktu”) agama, sehingga berdoa seperti yang dilakukan umat Islam. Faktanya, masyarakat Sasak mayoritas beragama Islam, sedangkan masyarakat Bali mayoritas beragama Hindu.
Orang Sasak punya gamelan Orkestra (metalofon) serupa dengan yang bisa Anda temukan di Bali. Mereka memainkan musik untuk banyak tarian tradisional. Jenis permainan orkestra lainnya pemberian gamelan, semacam gambang bambu.
Puisi juga memadukan kedua tradisi keagamaan tersebut. Dibacakan dengan iringan musik, puisi dan cerita diceritakan dengan menggunakan media tari. Salah satu kisah tersebut adalah tari sekali, di mana dua penabuh drum memainkan ritme yang saling bertautan, melakukan pose dramatis (the batek baris).
Ini meniru parade militer Belanda yang dibarengi dengan perempuan telek penari yang berperan sebagai raja, menteri, dan tentara. Atau barong tengkok, di mana laki-laki di dalam singa mitos memainkan gong ketel. Dalam pepakon, tarian seperti kesurupan dilakukan untuk menyembuhkan orang sakit, saat berada di dalam gandrung, seorang penari wanita lajang mengundang pria dari penonton untuk berdansa dengannya.
Nelayan, petani dan pengrajin
Tenun merupakan kerajinan tradisional masyarakat Sasak. Perempuan yang pernah bisa menenun dengan baik memiliki prospek pernikahan yang lebih baik, sehingga anak perempuan mulai menenun sejak usia tujuh tahun. Pakaian tenunan tangan yang paling populer adalah ikat Dan kain songket, yang merupakan berbagai jenis kain tenun.
Bertani adalah pekerjaan penting lainnya di sini, dengan padi, kedelai, kopi, tembakau, kapas, dan banyak lagi yang menjadi tanaman utama di pulau ini. Karena Lombok sangat bergantung pada beras, banyak orang yang bekerja di sawah.
Ada kesenjangan gender yang besar dalam budaya Sasak
Baik dari segi pendapatan, pendidikan ataupun kesehatan, perempuan lebih banyak berjuang di sini. Demikian pula, perempuan jarang berpartisipasi dalam kehidupan politik atau ekonomi. Di beberapa desa, perempuan bahkan tidak bisa mewarisi tanah. Demikian pula halnya dengan dinamika keluarga.
Manusia dianggap sebagai pemimpin dan dengan demikian membuat semua keputusan penting sambil melakukan sedikit hal di rumah. Sedemikian rupa sehingga mencuci piring mungkin dianggap memalukan bagi orang Sasak.
Seiring dengan peralihan masyarakat Sasak Wetu Telu ke Wetu Lima, Ritual Hindu dan animisme punah. Namun masih ada satu tradisi yang penuh teka-teki dan menghibur, yang dikenal sebagai Perang Topat, “perang ketan”.
Pertarungan yang cukup seru ini merayakan keharmonisan antara umat Hindu dan Muslim. Komunitas berkumpul Pura Lingsar, sebuah kompleks besar yang terdiri dari candi Hindu dan candi Islam.
Mereka melakukan a Pujawali ritual pertama, disusul perang makanan, di mana kedua belah pihak menggunakan nasi yang dibungkus daun kelapa sebagai senjata. Pada akhirnya, semua orang bisa mengambil sisanya. Ini adalah simbol indah dari dua agama yang hidup damai di tempat yang sama, berbagi makanan dan tanah meskipun ada perbedaan.
Masyarakat Sasak merupakan perpaduan unik dari berbagai budaya dan agama
Mereka hidup berdampingan di pulau itu, mengembangkan tradisi, seni, dan cara hidup yang tidak biasa. Rasakan sendiri budaya unik ini dengan berkunjung. Namun, jangan khawatir tentang mengemas bom ketan. Anda akan disambut dengan tangan terbuka.