{"id":32082,"date":"2024-04-11T11:52:26","date_gmt":"2024-04-11T03:52:26","guid":{"rendered":"https:\/\/instantkarmamag.com\/?post_type=article&#038;p=32082"},"modified":"2024-06-24T05:01:00","modified_gmt":"2024-06-23T21:01:00","slug":"startup-lingkungan-keberlanjutan-silikon-bali","status":"publish","type":"article","link":"https:\/\/instantkarmamag.com\/id\/artikel\/startup-lingkungan-keberlanjutan-silikon-bali\/","title":{"rendered":"SILICON BALI: Surga bagi startup keberlanjutan di Asia?"},"content":{"rendered":"<div id=\"bsf_rt_marker\"><\/div><h5 style=\"text-align: center;\">SEMENTARA PULAU INI MEMULIH DARI KETERpurukan Akibat PANDEMI, PULAU INI BERUSAHA MENDIVERSIFIKASI EKONOMI DILUAR PARIWISATA DAN MENARIK BISNIS HIJAU. TAPI BISAKAH ECO-STARTUPS BERSKALA ATAU APAKAH BALI LEBIH BANYAK PANTAI DARIPADA BISNIS?<\/h5>\n<p>Pencabutan pembatasan Covid-19 pada Juni 2023 kembali mendatangkan tsunami pengunjung <a href=\"https:\/\/instantkarmamag.com\/id\/online\/a-dive-into-medical-tourism-in-bali\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bali<\/a>, \u201cPulau Dewata\u201d di Indonesia.<\/p>\n<p>Banyak dari lebih dari 4 juta pengunjung asing ke Bali pada tahun 2023 adalah peselancar \u201cBule\u201d yang menuju Kuta untuk berjemur, menenggak bir Bintang, dan terjatuh dari sepeda motor. Namun ada juga yang merupakan wirausahawan keberlanjutan yang ingin memanfaatkan salah satu tempat terindah di dunia sebagai basis untuk mencapai tujuan mereka.<\/p>\n<p>Meskipun peraturan imigrasi telah diperketat \u2013 mungkin sebagai respons terhadap peningkatan kejahatan dan perilaku buruk orang asing \u2013 pulau ini mengeluarkan 70.000 visa penduduk asing pada tahun 2022, menjadikan populasi penduduk non-lokal yang menetap lama di Bali menjadi lebih dari 100.000.<\/p>\n<p>Banyak pengusaha Indonesia yang juga pindah dari Jakarta ke Bali, untuk menghindari polusi udara, lalu lintas yang lebih buruk, dan mahalnya biaya modal untuk lokasi startup di Bali, Canggu dan Bali. <a href=\"https:\/\/instantkarmamag.com\/id\/artikel\/tentang-ubud\/\">Ubud<\/a>.<\/p>\n<p>Pandemi ini merupakan \u201cporos besar\u201d bagi Bali, kata Lauren Blasco dari AC Ventures, dana ventura teknologi tahap awal yang berbasis di Bali. Blasco, yang merupakan kepala lingkungan hidup, sosial dan tata kelola (ESG) di perusahaan modal ventura tersebut, menambahkan bahwa para pengusaha yang akan mendirikan usaha di Singapura atau Jakarta memilih Bali, dengan menghubungkan ke wi-fi yang cukup layak dan jaringan listrik yang lengkap. -ruang kerja.<\/p>\n<p>Surga tropis ini mulai mendapat julukan &quot;Silicon Bali&quot; yang diberikan sekitar satu dekade lalu, kata Nicolo Castiglione, seorang pengusaha Italia yang meluncurkan angel accelerator Bali Investment Club yang berfokus pada dampak pada tahun 2020.<\/p>\n<h3>INSPIRATOR DAN ASPIRATOR<\/h3>\n<figure id=\"attachment_32100\" aria-describedby=\"caption-attachment-32100\" style=\"width: 1024px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-32100 size-large\" src=\"https:\/\/instantkarmamag.com\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/digital-nomad-1024x684.jpg\" alt=\"pengembara digital bali\" width=\"1024\" height=\"684\" title=\"\" srcset=\"https:\/\/instantkarmamag.com\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/digital-nomad-1024x684.jpg 1024w, https:\/\/instantkarmamag.com\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/digital-nomad-300x200.jpg 300w, https:\/\/instantkarmamag.com\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/digital-nomad-768x513.jpg 768w, https:\/\/instantkarmamag.com\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/digital-nomad.jpg 1160w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-32100\" class=\"wp-caption-text\">Foto: Hapus percikan<\/figcaption><\/figure>\n<p>Mulai dari investor keras kepala yang ingin mendapatkan keuntungan cepat dari peluang bisnis berkelanjutan bernilai miliaran dolar di Indonesia hingga para \u201cwoo-woo\u201d yang suka terbang di malam hari yang mencoba pengobatan alternatif dan obrolan psikospiritual, Bali adalah rumah bagi ramuan hijau yang penuh warna. startup dari semua ukuran dan tingkat kredibilitas. \u201cIni adalah spektrum yang gila,\u201d kata Christian Oechtering, investor tahap awal asal Jerman yang tertarik pada keberlanjutan, kesehatan, keramahtamahan, dan psikedelik. \u201cSuatu saat Anda berbicara dengan seorang miliarder Rusia yang membangun desa ramah lingkungan, di saat berikutnya Anda berbicara dengan seorang mantan pengedar narkoba di Amsterdam yang menjadi pelatih kehidupan.\u201d<\/p>\n<p>Ada dua jenis eco-preneur di Bali:<\/p>\n<p><\/p>\n<p>\u201cinspirator\u201d dan \u201caspirator\u201d, kata Oechtering. Para inspirator adalah wirausahawan yang ingin membuat perubahan nyata, para aspirator adalah pemimpi kurang kredibel yang hidup dalam gelembung \u2013 dan jumlah aspirator melebihi inspirator dengan selisih dua banding satu di Bali, menurut Oechtering. \u201cAnda harus berhati-hati dengan siapa Anda bekerja. Anda tidak ingin menyia-nyiakan waktu Anda di sini,\u201d katanya.<\/p>\n<h3><strong>RUMAH ALAMI UNTUK ECO-STARTUPS?<\/strong><\/h3>\n<p>Bali adalah landasan alami bagi startup yang sadar karena identitas budayanya yang unik, kata Blasco. Filosofi pulau ini berakar pada pepatah Nangun Sat Kerthi Loka Bali yang secara kasar berarti menghormati alam dan budaya untuk memakmurkan Bali. Dalam hal ini, perusahaan-perusahaan baru yang berupaya melestarikan keindahan alam pulau ini sudah memiliki keunggulan, kata Toshihiro Nakamura, mantan eksekutif PBB yang ikut mendirikan Kopernik, sebuah laboratorium penelitian dan pengembangan yang berbasis di Ubud untuk perusahaan rintisan yang menangani masalah sosial dan lingkungan. .<\/p>\n<p>Hal ini membantu pemerintah ingin mendiversifikasi perekonomian Bali di luar pariwisata. Dihantui oleh tahun-tahun pandemi yang ditandai dengan hotel-hotel kosong dan pantai-pantai tandus, ketika perekonomian Bali terpukul lebih parah dibandingkan provinsi mana pun di Indonesia, pihak berwenang ingin menarik industri yang lebih ramah lingkungan dan mengurangi ketergantungan pulau ini pada pariwisata, yang menyumbang 60 hingga 80 persen dari total pendapatan. ekonomi lokal.<\/p>\n<p>Berdasarkan Peta Jalan Ekonomi Kerthi (yang berarti ketenaran dan kejayaan dalam bahasa Sansekerta) yang ditetapkan pada tahun 2021, peraturan diperkenalkan untuk meningkatkan energi terbarukan, kendaraan listrik, dan efisiensi energi, serta membangun ekosistem energi bersih sesuai dengan target net-zero Bali pada tahun 2045, yang merupakan dekarbonisasi provinsi paling ambisius di Indonesia. tujuan \u2013 15 tahun lebih cepat dari target nasional net-zero pada tahun 2060.<\/p>\n<p>Bali adalah \u201claboratorium emisi nol bersih\u201d di Indonesia dan dapat memberikan cetak biru bagi sistem energi dan transportasi negara ini, kata Sofwan Hakim, pimpinan senior, Unit Manajemen Program Bali, di organisasi nirlaba World Resources Institute (WRI) Indonesia. Bali, meskipun masih menggunakan jaringan listrik berbasis batu bara, dapat menguji coba solusi rendah karbon dan mengembangkan infrastruktur yang dapat diperluas dan diadopsi di seluruh Indonesia, katanya.<\/p>\n<p>Terdapat tanda-tanda yang menjanjikan bahwa peraturan net-zero di Bali akan membuahkan hasil setelah KTT G20 pada bulan November 2022. Pada bulan tersebut, pembangkit listrik tenaga surya terapung berkapasitas 100 kilowatt diluncurkan di Nusa Dua, kawasan kelas atas di ujung selatan Bali yang merupakan lokasi pembangkit listrik tenaga surya paling mewah. hotel-hotel menjadi tuan rumah kunjungan para pejabat tinggi G20, dan jalanan tiba-tiba dipenuhi kendaraan listrik (EV).<\/p>\n<p>Namun banyak kendaraan listrik di jalan-jalan Bali untuk G20 telah kembali ke Jakarta dan pembangkit listrik tenaga surya terapung Waduk Muara Nusa Dua, yang disebut oleh seorang eksekutif dari perusahaan energi nasional PLN sebagai \u201cbukan sekadar pameran untuk G20\u201d, dilaporkan tidak lagi beroperasi. operasional.<\/p>\n<p>Pengamat industri mengatakan bahwa peraturan energi bersih di Bali, meskipun progresif dibandingkan dengan provinsi lain di Indonesia, masih lambat dalam memenuhi janjinya. Rayhan Alghifari, rekan kebijakan dan advokasi di New Energy Nexus, sebuah organisasi nirlaba yang mendukung pengusaha energi ramah lingkungan, mencatat bahwa masih kurangnya program tindak lanjut untuk membantu pengusaha energi ramah lingkungan mengakses insentif, seperti keringanan pajak untuk mengkonversi bahan bakar fosil. kendaraan berbasis ke EV dan pengisian daya EV.<\/p>\n<p>Ia menambahkan bahwa terdapat juga kurangnya regulasi teknis dan insentif untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya di atap rumah di pulau tersebut, dan bahkan kurangnya regulasi atau insentif untuk pariwisata berkelanjutan.<\/p>\n<h3>SPEKTRUM ECO STARTUP BALI<\/h3>\n<p>Meskipun tidak ada perusahaan besar atau kantor pemerintahan di Bali, pulau ini adalah rumah bagi beberapa nama terkemuka di Asia dalam bidang pembangunan berkelanjutan, bercampur dengan generasi startup baru yang bermunculan pasca-Covid. Kopernik telah ada sejak tahun 2013. Terratai, yang didirikan oleh mantan eksekutif Wildlife Conservation Society Matthew Leggett, yang bertujuan untuk mengatasi kesenjangan dalam ekosistem pendanaan konservasi di Asia, baru muncul tahun lalu.<\/p>\n<p>Beberapa diantaranya berupaya untuk memperbaiki permasalahan lokal, dimana sampah menjadi isu yang paling populer untuk mengisi kesenjangan infrastruktur di pulau tersebut demi perekonomian yang banyak membuang sampah yang didorong oleh pariwisata. Kelompok lingkungan hidup Sungai Watch, yang memasang penghalang sungai untuk mengumpulkan sampah plastik sebelum dibuang ke laut, adalah salah satu organisasi nirlaba paling terkemuka, yang didirikan oleh saudara kandung asal Perancis, Gary, Kelly, dan Sam Bencheghib yang dibesarkan di Bali pada tahun 2020.<\/p>\n<figure id=\"attachment_32097\" aria-describedby=\"caption-attachment-32097\" style=\"width: 1024px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-32097 size-large\" src=\"https:\/\/instantkarmamag.com\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/silicon-bali-sustainability-startup-1024x659.jpg\" alt=\"startup keberlanjutan silikon bali\" width=\"1024\" height=\"659\" title=\"\" srcset=\"https:\/\/instantkarmamag.com\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/silicon-bali-sustainability-startup-1024x659.jpg 1024w, https:\/\/instantkarmamag.com\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/silicon-bali-sustainability-startup-300x193.jpg 300w, https:\/\/instantkarmamag.com\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/silicon-bali-sustainability-startup-768x494.jpg 768w, https:\/\/instantkarmamag.com\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/silicon-bali-sustainability-startup.jpg 1500w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-32097\" class=\"wp-caption-text\">Foto oleh Eko Hardiyanto<\/figcaption><\/figure>\n<p>Startup lain yang berfokus pada sampah di Bali termasuk kelompok konservasi pemenang penghargaan, Bye Bye Plastic Bag. Didirikan oleh saudari setempat Melati dan Isabel Wijsen pada tahun 2013, kampanye mereka berujung pada pelarangan kantong plastik, wadah styrofoam, dan sedotan plastik sekali pakai di Bali pada tahun 2019.<\/p>\n<p>Industri pariwisata mengkonsumsi banyak air, dan sektor perhotelan membuat masyarakat sekitar tidak mendapatkan pasokan air yang dapat diandalkan. Startup seperti Bali Rain, yang memproduksi produk air dari air hujan, dan Terrawater, sebuah perusahaan sosial yang menjual filter air keramik, berupaya meringankan krisis air di Bali.<\/p>\n<p>Sementara itu, Green School, sekolah ramah lingkungan pertama di Asia yang didirikan pada tahun 2008 oleh pengusaha Amerika Cynthia dan John Hardy, melahirkan gelombang baru eco-preneur Bali. Freddie Hedegaard yang berusia tujuh belas tahun memulai perusahaan verifikasi proyek karbon Dungbeetle saat masih bersekolah, didukung oleh Luke Janssen, seorang pengusaha yang mendirikan perusahaan teknologi seluler Tiger Spike yang berbasis di Singapura.<\/p>\n<h2>KESEMBIHAN PENDANAAN<\/h2>\n<p>Meskipun ekosistem startup di Bali telah berkembang pesat sejak pandemi ini, Bali tidak dapat bersaing dengan Jakarta atau Singapura dalam satu hal penting: akses terhadap modal. Oleh karena itu, meskipun terdapat banyak sekali bisnis terkait keberlanjutan di Bali, sebagian besar masih berskala kecil.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/indosole.com\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sol indo<\/a>, yang membuat sepatu dari ban daur ulang, adalah salah satu dari sedikit perusahaan yang telah mendunia, kata Castiglione dari Bali Investment Club, yang perusahaannya membantu mendanai usaha tersebut. Blasco mengatakan bahwa meskipun modal mungkin tidak tersedia di Bali, dengan banyaknya orang yang datang dan keluar, \u201cPulau Dewata\u201d menawarkan banyak peluang untuk bertemu mitra yang tepat atau mencari karyawan berikutnya. Ditambah lagi hidup dan bekerja, dan Bali jauh lebih murah dibandingkan Singapura atau Jakarta, sehingga membantu menjaga biaya tetap rendah.<\/p>\n<p>Meskipun Bali adalah tempat yang ideal bagi wirausahawan perintis untuk menjadi \u201ckreatif dan suka berkelahi\u201d, pulau ini membutuhkan lebih banyak perusahaan besar yang berbasis di pulau tersebut untuk meningkatkan profilnya, Janssen menambahkan. \u201cBali membutuhkan <a href=\"https:\/\/www.gojek.com\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Gojek<\/a>,&quot; dia berkata.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3>Mengunjungi:<\/h3>\n<h3><a href=\"http:\/\/www.eco-business.com\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">www.eco-bisnis.com<\/a><\/h3>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Surga tropis ini mulai mendapat julukan \u201cSilicon Bali\u201d yang diberikan sekitar satu dekade lalu.<\/p>","protected":false},"author":128,"featured_media":32098,"comment_status":"open","ping_status":"closed","template":"","meta":{"footnotes":""},"categories":[271,275],"tags":[411],"section":[387],"interest":[380,372],"_magazine":[407],"class_list":["post-32082","article","type-article","status-publish","has-post-thumbnail","hentry","category-culture","category-impact","tag-readmore","section-impact","interest-creative","interest-eco","_magazine-407"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/instantkarmamag.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/article\/32082","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/instantkarmamag.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/article"}],"about":[{"href":"https:\/\/instantkarmamag.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/article"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/instantkarmamag.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/128"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/instantkarmamag.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=32082"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/instantkarmamag.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/article\/32082\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/instantkarmamag.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/32098"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/instantkarmamag.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=32082"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/instantkarmamag.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=32082"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/instantkarmamag.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=32082"},{"taxonomy":"section","embeddable":true,"href":"https:\/\/instantkarmamag.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/section?post=32082"},{"taxonomy":"interest","embeddable":true,"href":"https:\/\/instantkarmamag.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/interest?post=32082"},{"taxonomy":"_magazine","embeddable":true,"href":"https:\/\/instantkarmamag.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/_magazine?post=32082"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}<!-- This website is optimized by Airlift. Learn more: https://airlift.net. Template:. Learn more: https://airlift.net. Template: 6a3c9e6bc6af5a91495580da. Config Timestamp: 2026-06-25 03:19:51 UTC, Cached Timestamp: 2026-09-01 04:43:48 UTC -->